Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020 - Inklusi Sosial

Kongres Kebudayaan Desa - Inklusi Sosial
Illustration - ciptaDesa.com

Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh bagian dunia beberapa bulan terakhir ini juga memberikan dampak bagi negara Indonesia dan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Dalam kurun waktu 3 bulan semenjak pandemi, krisis ini menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat, menyerang segala aspek kehidupan masyarakat secara global. Sejak Desember 2019, pelan tapi pasti dunia memasuki retreat yang panjang. Aktivitas berhenti, pemerintahan di seluruh dunia menghadapi virus Covid-19 yang belum ditemukan vaksinnya. Di Indonesia, sejak pertengahan Maret 2020 seluruh pekerja kantor mengubah ritme kerjanya menjadi work from home (WFH). Kondisi ini menjadi pukulan telak pada berbagai sektor kehidupan. Saat roda ekonomi berhenti, risiko yang dihadapi ke depan semakin menyeramkan. Sebanyak 1,2-2 juta pekerja terkena PHK. Angka kemiskinan yang sejak reformasi bergulir coba dikurangi, dalam sekejap naik berkali-kali lipat. Mereka yang sempat terangkat dari kemiskinan, akibat Covid-19 akhirnya kembali ke jurang kemiskinan.

Selain dampak ekonomi, virus Covid-19 juga membawa dampak lain dalam kehidupan sosial masyarakat. Timbul rasa curiga dan hilangnya kepercayaan terhadap orang-orang di sekitar kita juga pada orang yang kita belum kenal. Sebagai contoh, saat membeli makanan, baik di rumah makan maupun warung kaki lima ada kecurigaan yang muncul. Prasangka dan diskriminasi terus terjadi, bukan hanya karena apakah ia menderita Covid-19, tetapi juga karena identitas yang sudah melekat padanya. Mereka diberikan label, stereotip, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan/atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit. Relasi berubah, perilaku pun demikian.

Di sektor pendidikan, sekolah dan kampus lumpuh. Seluruh proses pendidikan dilakukan dari rumah. Covid-19 menyadarkan kita bahwa pendidikan yang selama ini sepenuhnya ditanggungkan pada sekolah telah berubah dan dikembalikan pada intinya, yaitu pendidikan keluarga. Orang tua diajak kembali untuk memperhatikan pendidikan anak. Anggapan bahwa sekolah dijadikan tempat untuk menjadi penanggung jawab tunggal atas pengajaran kini direvisi total. Kondisi ini membuat seluruh tatanan keluarga berbenah. Mau tidak mau keluarga diharapkan menjadi tangguh karena ia satu-satunya ruang yang dianggap aman secara fsik maupun secara psikologis atas Covid-19.

Dalam situasi krisis seperti ini, desa tiba-tiba dijadikan tumpuan hidup saat krisis. Kebiasaan hidup gotong royong, solidaritas, hidup berbagi, dan seperangkat praktik baik hidup ala modal sosial desa disorongkan kembali. Bagi desa, krisis ekonomi ini perlu dibaca kembali untuk mendudukkan sejauh mana sistem ekonomi yang berlaku sebelumnya telah berpihak kepada desa. Berpihak artinya mengedepankan desa sebagai kekuatan ekonomi berdaulat dalam membangun sistem ekonomi yang lebih berkeadilan bersendikan pada nilai-nilai keluhuran hidup masyarakat desa.

Selama beberapa dekade sebelumnya, desa telah memiliki praktik-praktik baik dalam mengelola kebersamaan masyarakat. Contoh kecil adalah kegiatan gotong royong atau kerja bakti yang rutin dilakukan secara berkala oleh masyarakat desa. Gotong royong merupakan tradisi subkultur yang mampu memobilisasi seluruh masyarakat tanpa melihat latar belakang agama, suku, ras, gender, dan kelas sosial. Pengejawantahan dari praktik-praktik kecil ini tidak bisa dilepaskan dari lahirnya kepemimpinan desa yang organik dan berakar dari kearifan lokal. Selain itu, semangat gotong royong merupakan modalitas untuk mengurai potensi perbedaan yang dapat berujung pada munculnya konflik. Tak disadari, ini menjadi sebuah contoh praktik baik yang sejak beberapa waktu terakhir ini menjadi hal yang sudah ditinggalkan masyarakat kota yang sudah terkotakkotakkan karena situasi lingkungannya. Dengan kata lain, selama ini desa telah lama menjadi pelopor bagi situasi masyarakat inklusif yang mengutamakan keberagaman.

Menimbang pada hal-hal di atas, krisis akibat pandemi perlu direfleksikan pada sejumlah gagasan dan inovasi bagi terciptanya masyarakat Indonesia yang inklusif dalam tatanan baru pascapandemik Covid-19. Menata Kembali masyarakat yang sudah terlalu banyak menerima hal-hal modern yang tak selaras dengan keberagaman dan inklusivitas desa. Pun dapat menjalin kembali relasi yang telah lama ditinggalkan karena perilaku yang telah riuh dengan situasi modern perkotaan yang menyeruak dalam kelembagaan struktur di desa. Dalam konteks resiliensi masa krisis, gagasan inklusivitas desa menarik untuk dieksplorasi dan dikembangkan lebih dalam, termasuk melengkapinya dengan alat ukur keberagaman sebagai benteng terakhir masyarakat Indonesia yang terbuka dan beragam demi tercapainya inklusivitas masyarakat Indonesia menyongsong tatanan baru yang kembali pada nilai-nilai luhur bersama.

Beberapa hal yang berusaha dijawab terkait tema “Inklusi Sosial” adalah dalam ruang lingkup sebagai berikut:

  1. Bagaimana praktik baik yang telah berlangsung di desa menjadi sumber tatanan baru masyarakat Indonesia mendatang?
  2. Bagaimana mengembangkan sistem keberagaman yang inklusif di desa mampu menjadi fondasi resiliensi masyarakat di masa krisis?
  3. Bagaimana peluang-peluang baru tercipta untuk membangun situasi masyarakat inklusif di Indonesia menyongsong tatanan baru?

Dalam rangka itu, pada webinar Seri Khusus bertema “Inklusi Sosial” sebagai bagian rangkaian kelanjutan Kongres Kebudayaan Desa 2020, (seri 1 hingga seri 18, antara tanggal 1-10 Juli), pada Minggu, 5 Juli 2020: 09.00 s.d. 12.00 WIB, bertempat di Kampung Mataraman, Jl. Ringroad Selatan, Glugo No. 93, Panggungharjo, Yogyakarta kami mengundang 6 narasumber untuk memaparkan sumbang gagasan mereka, yakni dengan tema:

“Inklusi Sosial: Mewujudkan Masyarakat Inklusif dalam Tatanan Indonesia Baru”

Kongres Kebudayaan Desa - Inklusi Sosial 1.69 MB
Buku Putih - Kongres Kebudayaan Desa 5.15 MB