Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020 - Kebudayaan

Kongres Kebudayaan Desa - Kebudayaan
Illustration - ciptaDesa.com

Desa mawa cara, negara mawa tata ‘tiap desa memiliki adat masing-masing, tiap negara mempunyai undang-undang dan peraturan yang mengatur tata kehidupan rakyatnya, yang berbeda satu sama lain’. Demikian Jawa memberikan wewarah tentang perbedaan-perbedaan cara setiap desa dan negara dalam mengatur kehidupannya. Berbeda desa, berbeda cara pengaturannya; berbeda daerah, berbeda pola hidupnya, berbeda kebiasaannya, bahkan berbeda bahasanya. Covid-19 memberi peluang bagi kita untuk merefleksikan ulang tata cara dan pengetahuan leluhur yang hingga kini justru masih relevan untuk dilakukan. Gotong royong tampaknya menemukan kembali tempatnya. Hari-hari ini ketika persoalan pangan menjadi krusial, solidaritas dan kerja samalah yang menjadi tumpuan bagi mereka yang papa. Dan orang-orang kembali ke desa. Mengingat desa sebagai ibu.

Dalam alam kebudayaan desa, kejadian pagebluk semacam Covid-19 ini, sebelum ilmu kedokteran modern membentuknya (menafsirkan, memoles, dan memplotnya), mengaitkannya sebagai sebentuk “hukuman”. Muncullah ungkapan “sapa nandur, ngunduh” ‘apa yang kita perbuat itulah yang kita tuai’. Di sinilah kemudian kontestasi penafsiran menemukan ruangnya. Perspektif budaya tradisional, yang erat kaitannya dengan mitos, menamakannya sebagai sebentuk “kualat” (buah dari kesombongan atau tindakan penyepelean). Dalam jagat pewayangan, suasana “gara-gara” sering dilukiskan sebagai sebuah kondisi di mana, selain terguncangnya tata nilai sekaligus tata kosmologis juga ditandai oleh adanya pagebluk: “Para kawula ingkang ketaman sesakit, lara esuk sore mati ‘banyak orang tiba-tiba terserang penyakit, sakit di pagi hari mati di sore hari’.” Konsepsi jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makro- kosmos) yang bersifat wengku-winengku (saling menopang) atau bersifat korelatif, sering dijadikan penjelasan tentang rusaknya tata kosmologis. Seumpamanya kacaunya jagad cilik atau manusia yang berkaitan dengan sebuah tata nilai maka akan menyebabkan kacaunya pula jagat gedhe atau alam. Hal ini dapat dipahami mengingat di masa silam manusia tak pernah dikonstruksikan berseberangan dengan alam. Namun, ia hidup dengan dan bersama alam, bukannya di luar sekaligus di dalam alam.

Maka ketika berhubungan dengan alam, ilmu titen menjadi penting. Kapan seorang pelaut harus melaut, kapan seorang petani harus menanam, kapan pernikahan harus dilangsungkan, dan seterusnya. Budaya-budaya itulah yang di era sekarang digeser dengan ukuran-ukuran yang sangat rasional dan meminggirkan rasa- surasa. Maka dalam situasi pandemik semacam ini ungkapan “barang siapa yang mencari kebahagiaan tanpa membahagiakan orang lain, layaknya sedang membuat tali untuk menjerat lehernya sendiri” semakin relevan. Dan hari ini masyarakat saling menguatkan: solidaritas pangan di mana-mana, donasi terus berlangsung, membeli barang di warung tetangga menguat, dan seterusnya. Gotong royong menjadi puncak relasi sosial dan budaya. Berbagi sumber pangan menjadi keharusan.

Dan lalu pertanian menjadi tempat kembali. Desa menemukan kembali relevansinya bagi Indonesia. Kaum muda berbondong- bondong mengolah tanah, orang kota menanam. Desa, pangan, dan pertanian adalah awal mula kebudayaan. Menanam adalah awal dari keberlanjutan hidup manusia. Dan seluruh siklus itu adalah bagian dari pembentukan kebudayaan yang kemudian membentuk pola produksi-konsumsi. “Untuk bertani tangan harus dingin, jika perlu bahkan harus bicara dengan tanaman,” begitulah mereka yang memuliakan budaya tani. Vandana Shiva, intelektual asal India menyebut di masa Covid-19 ini, ibu dari pengetahuan bukan lagi filsafat, tetapi menanam, bertani. Pengetahuan yang berarti di masa pandemi sekarang ini adalah bagaimana kita memakan apa yang kita tanam. Setiap anak muda harus menyadari bahwa bekerja dengan menggunakan tangan, hati, dan pikiran sekaligus terkoneksi satu dengan lain adalah evolusi tertinggi dari spesies manusia. Ini yang membedakan kita—manusia—dengan binatang. Bekerja dengan menggunakan tangan bukan pekerjaan yang rendah, ini adalah pekerjaan yang nyata tentang kemanusiaan. Maka mulailah dengan menanam. Olahlah tanah untuk menanam makananmu sendiri, simpanlah benih, dan memasak. Karena di masa lalu aktivitas memasak yang dilakukan oleh ibu sering dianggap tidak sebagai sebuah pekerjaan. Namun, ia adalah alasan kita bisa sustain hingga hari ini. Belajar dari moyang untuk mengajari bagaimana cara memasak, membangun komunitas sebagai bagian dari keluarga yang ada di bumi, bukan semata sebagai produsen dan konsumen, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang mengolah pangan. Hari ini makanan menghubungkan kita dan itu menyingkirkan rasa takut pada kecurangan, ketidakjujuran, dan kecemasan. Itulah sesungguhnya kebebasan.

Dalam konteks itulah kita mengamini budaya kolektif telah menjadi pengikat bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Dalam pola relasi sosial dengan berbagai istilah, seperti kongko dan nongkrong, kenduren, kondangan, cakrukan, memberi tanda masyarakat yang terus berkumpul. Salah satunya melalui tradisi makan bersama. Di Tanah Padang, tradisi ini disebut bajamba, Bali dengan megibung dan ngeliwet di beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sayangnya, di tengah pandemi Covid-19, imbauan social/physical distancing menjadi suatu tantangan tersendiri bagi perilaku masyarakat yang terbiasa melakukan aktivitas bersama-sama. Berbagai usaha dilakukan agar mencegah kerumunan umum, seperti penggerebekan anak-anak muda yang nongkrong, hingga implementasi Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Masyarakat juga perlu mengingat bahwa dalam kondisi seperti ini, kepedulian dan tenggang rasa harus semakin kuat. Budaya gotong royong tetap dapat dilakukan meskipun tidak seperti biasanya dalam kontak fisik. Bahkan, dalam pengertian yang dikutip dari Kendra Cherry, budaya kolektif tidak terkait dengan kontak fisik, tetapi merupakan tujuan bersama, “Collectivistic cultures emphasize the needs and goals of the group as a whole over the needs and desires of each individual.” Dalam pandemi ini, budaya kolektif tidak seharusnya menjadi antitesis, melainkan adaptasi.

Maka salah satu hal yang perlu didiskusikan dalam seri Kongres Kebudayaan Desa, pada sesi webinar ke-10 “Kebudayaan” ini adalah bagaimana menjelaskan kebiasaan hidup semacam ini dalam konteks kebudayaan. Budaya baru seperti apa yang akan lahir dari proses ini?

Dalam konteks kebudayaan dan seni, sesungguhnya menjadi tantangan menarik dalam dunia kreatif. Para pelaku budaya dan seni memiliki ruang yang menantang, sebagai olah kreativitas. Seorang pelaku kreatif tentu tak akan terhalang oleh krisis. Daya kreativitasnya di uji di era pandemik. Namun, tampaknya untuk saat ini masih terhitung sulit dan karenanya Ditjen Kebudayaan mendata sedikitnya ada 40.081 seniman terdampak Covid-19 karena pembatalan pertunjukan dan festival seni yang perlu dibantu.

Webinar Seri 10 tentang kebudayaan ini bermaksud membahas bagaimana kebudayaan di desa, era dan pasca-Covid-19. Ketika kebiasaan bergeser, ketika kebosanan menjadi intim, ketika kecemasan menjadi teman sehari-hari, ketika jabat tangan tak lagi dilakukan, ketika silaturahmi tak lagi terjadi dengan pertemuan fisik, dan ketika rebahan begitu berarti dalam keberlangsungan bangsa. Beberapa pertanyaan yang bisa dipertajam untuk mencermati kondisi tata hidup dan kebudayaan kita hari ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa dan bagaimana kebudayaan kita akan berubah menghadapi Covid-19 ini? Bentuk kebudayaan seperti apa yang kita imajikan? Model nilai dan praktik budaya seperti apa yang akan dituju oleh desa dan Indonesia pada umumnya?
  2. Mungkinkah mereinterpretasi dan merekonstruksi budaya serta kekayaan nusantara menjadi bangunan baru kebudayaan kita di era pandemik dan sesudahnya?
  3. Strategi kebudayaan seperti apa yang bisa kita bangun untuk tata hidup baru dan arah Indonesia baru, selama Covid-19 dan sesudahnya? Bagaimana teologi desa selama dan pascapandemi?
  4. Bagaimana peran aktor-aktor budaya, budayawan, seniman, dan warga dalam menentukan arah kebudayaan di desa?
  5. Dalam konteks pembangunan kebudayaan, kebijakan strategis apa yang bisa didorongkan untuk pemerintahan desa, membangun nilai dan praktik kebudayaan baru di era pandemik Covid-19 dan sesudahnya? Kebijakan strategis apa yang bisa mengakselerasi dunia seni di desa?
  6. Program-program strategis apa yang bisa ditawarkan untuk pemerintah desa sebagai bahan pembangunan kebudayaan dan kesenian selama Covid-19 dan sesudahnya? Bagaimana pula kegiatan yang bisa ditawarkan?

Dalam rangka itu pada Webinar Seri 10 Kongres Kebudayaan Desa 2020, hari kelima (dari rangkaian webinar seri 1 hingga seri 18, 1-10 Juli), pada Senin, 6 Juli 2020: 13.00 s.d. 16.00 WIB, bertempat di Kampoeng Mataraman, Jl. Ringroad Selatan, Glugo No. 93, Panggungharjo, Yogyakarta, kami mengundang enam narasumber untuk memaparkan sumbang-gagasan mereka dengan tema:

“Kebudayaan: Mengonstruksi Ulang Alam Pikiran Nusantara sebagai Basis Peradaban dan Tata Nilai Indonesia Baru”

  1. Dr. Anwar Sanusi, Ph.D. (Sekjen Kemendesa)
  2. Prof. Rachmi Diyah Larasati (University of Minnesota, Minneapolis)
  3. Iman Budhi Santoso (Budayawan)
  4. Nirwan Ahmad Arsuka (Pemerhati Budaya)
  5. Irfan Afifi (Budayawan/Langgar.co)
  6. Hairus Salim (LKIS)
    Moderator: Lukman Solihin (Peneliti Litbang Kemendikbud)

Kami mendorong keenam narasumber di atas untuk menyampaikan sumbang-gagasan pada webinar tersebut dan juga meminta mereka untuk menuliskan gagasan mereka dalam bentuk paper, tulisan, ataupun makalah. Sebagian dari narasumber ini berkenan menulis makalah dan menyerahkan ke panitia, tetapi ada sebagian dengan alasan satu dan lain hal belum bisa menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Oleh karenanya kami terpaksa merekam sumbang-gagasan mereka dalam bentuk notulensi yang kemudian kami olah menjadi tulisan yang utuh.

Buku ini merupakan hasil dari kumpulan antologi sumbang- gagasan tulisan para narasumber di acara webinar di atas, baik dari makalah yang mereka tuliskan sendiri, maupun tulisan yang bisa kita rekam dari webinar seri ke-10 pada tema “Kebudayaan” dari rangkaian Kongres Kebudayaan Desa 2020. Semoga tulisan- tulisan yang terekam maupun tertulis pada rangkaian webinar Kongres Kebudayaan Desa, yang telah menjadi kesatuan buku yang Anda pegang ini, bisa memberi sumbang-gagasan atas Arah Tatanan Baru Indonesia yang berangkat dari desa dalam mengeja Indonesia, terutama setelah peristiwa pandemik Covid-19 yang bukan hanya melanda bangsa ini melainkan juga melanda dunia secara keseluruhan. Terakhir, selamat membaca.

Kongres Kebudayaan Desa - Kebudayaan 989 KB
Buku Putih - Kongres Kebudayaan Desa 5.15 MB