Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020 - Keluarga

Kongres Kebudayaan Desa - Keluarga
Illustration - ciptaDesa.com

Keluarga, dalam konteks sosiologi, dianggap sebagai institusi sosial terkecil yang sekaligus menjadi sistem sosial dan mutlak ada di setiap kebudayaan. Dalam konteks peraturan perundangundangan, keluarga didefnisikan sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari: (1) suami dan istri; (2) suami, istri, dan anak-anaknya; (3) ayah dan anaknya; atau (4) ibu dan anaknya.

Sebagai bentuk lingkungan sosial yang pertama, keluarga berperan dalam memperkenalkan cinta kasih, moral, keagamaan, sosial budaya, dan nilai-nilai bersama yang diyakini dalam masyarakat. Keluarga juga menjadi pertahanan utama yang dapat menangkal berbagai pengaruh negatif dari dinamika sosial yang ada. Karena tahap awal pemasyarakatan (socialization) dengan segala interaksinya dimulai dari lingkungan keluarga.

Berawal dari lingkungan keluarga, individu berkembang. Keluarga yang sehat dan sejahtera akan lebih mampu menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga untuk mendorong kontribusi yang lebih besar dalam pembangunan. Sehingga kehidupan di lingkungan keluarga berpengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Keluarga dianggap sebagai penentu baik dan buruknya suatu bangsa.

Akan tetapi, kehidupan keluarga selalu dihadapkan dengan berbagai persoalan dan fenomena yang berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Salah satu tantangan terberat yang dihadapi oleh hampir seluruh keluarga di Indonesia saat ini adalah pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 yang pada tanggal 30 Januari 2020 diumumkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat berdampak di seluruh aspek kehidupan. Keluarga menjadi unit terkecil dalam masyarakat yang terdampak paling besar, baik risiko kesehatan, ekonomi, hingga kesejahteraan keluarga. Keutuhan sebuah keluarga dipertaruhkan di masa pandemi, misal dikarenakan kasus kekerasan dalam rumah tangga, kasus perceraian, hingga kasus kehamilan yang tidak direncanakan.2 Di samping itu, relasi kuasa ini semakin tegas di saat keterbatasan ruang gerak masing-masing anggota keluarga, penyempitan ruang privasi—yang dinilai mampu memunculkan konflik—terjadi di dalam keluarga. Ketidakmampuan setiap anggota keluarga untuk beradaptasi akan mendatangkan konflik-konflik baru. Perempuan dan anak menjadi pihak yang paling rentan mendapatkan kekerasan dalam lingkungan keluarga.

Kondisi ini secara tidak langsung menunjukkan jika keluarga berada dalam situasi yang rentan. Agar keluarga kuat menghadapi krisis, sangat dibutuhkan peran penuh suami-istri, termasuk anak-anak untuk saling mendukung, menghargai satu sama lain, serta berbagi peran domestik saat berada di rumah. Kemampuan dan ketahanan keluarga untuk menghadapi masa krisis sangat menentukan keberlangsungannya di masa yang akan datang.

Di samping itu, masa pandemi Covid-19 juga memberi kesempatan bagi setiap keluarga untuk merefleksikan ulang nilainilai kehidupan yang lebih terbuka dan kembali kepada nilai-nilai dasar Nusantara: gotong royong dan kekeluargaan. Covid-19 bisa menjadi ruang untuk menanamkan kembali tatanan kehidupan baru yang lebih manusiawi, lebih memanusiakan, lebih jujur, lebih adil dan menyelamatkan seluruh tatanan keluarga dan masyarakat.

Berangkat dari fenomena tersebut, Webinar Seri 16 dalam rangkaian Kongres Kebudayaan Desa 2020 ini mencoba mendiskusikan apa dan bagaimana makna, peran, dan tatanan baru berkeluarga dalam sebuah tema besar “Keluarga: Reformulasi Peran Strategis Keluarga dalam Pemuliaan Martabat Manusia untuk Tatanan Indonesia Baru”.

Tema ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan dan memberikan gambaran pola penguatan dan pembangunan ketahanan keluarga di era Covid dan sesudahnya, meliputi:

  1. Pemaknaan ulang arti keluarga yang selama ini tergerus arus informasi dan modernisasi.
  2. Langkah dalam membangun ketahanan keluarga di era dan pasca-Covid yang memungkinkan terwujudnya family homeostasis.
  3. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh keluarga (suami, istri, anak) untuk menguatkan fondasi dan ketahanan keluarga serta langkah strategis bagi suami-istri dalam membangun kesadaran dalam menghadapi pandemi.
  4. Model perilaku yang bisa dikembangkan dalam keluarga agar keluarga tetap berfungsi secara utuh.
  5. Strategi untuk mendorong pendidikan karakter yang lebih jujur, terbuka, dan manusiawi guna menjadi tatanan hidup baru pada masa dan pascapandemi Covid-19.
  6. Kebijakan strategis bagi pemerintah desa dalam membangun keberfungsian dan ketahanan keluarga.
  7. Program-program yang bisa ditawarkan untuk pemerintah desa dalam membangun ketahanan keluarga.
  8. Model edukasi keluarga yang siap diimplementasikan di tingkat desa.

Webinar yang diselenggarakan di hari kesembilan, Kamis, 9 Juli 2020, mulai pukul 13.00 hingga pukul 16.00 WIB, bertempat di Kampoeng Mataraman, Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ini menghadirkan empat narasumber, yaitu (1) Dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG., selaku kepala BKKBN; (2) Alissa Wahid; (3) Prof. Tina Afatin, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada; dan (4) Najeela Shihab, pendiri Sekolah Cikal; dengan moderator Farha Ciciek dari Tanoker.

Seri webinar kali ini berupaya mendorong narasumber untuk sumbang gagasan dan pengalaman, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Namun, dikarenakan berbagai hambatan, sebagian dari narasumber hanya bisa memaparkan ide dan pengalaman mereka dalam bentuk lisan, yang kemudian dijalin menjadi sebuah kesatuan tulisan utuh oleh tim Kongres Kebudayaan Desa 2020.

Buku ini merupakan luaran dari kegiatan Webinar Seri 16 Kongres Kebudayaan Desa 2020, baik yang ditulis langsung oleh narasumber, tulisan yang merupakan catatan dari tim kongres, maupun beberapa tulisan yang lolos kurasi Call for Papers. Semoga tulisan dari Webinar Seri 16 yang telah berbentuk buku dan berada di tangan pembaca ini mampu menyumbang ide, gagasan, untuk arah Indonesia baru selama dan setelah berakhir Covid-19 yang berpijak dari nilai luhur masyarakat desa. Akhir kata, selamat membaca!

Kongres Kebudayaan Desa - Keluarga 3.80 MB
Buku Putih - Kongres Kebudayaan Desa 5.15 MB