Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020 - Kesehatan Semesta

Kongres Kebudayaan Desa - Kesehatan Semesta
Illustration - ciptaDesa.com

Tahun 2020 barangkali adalah salah satu tahun terburuk dalam sejarah. Krisis terjadi tidak hanya di satu atau dua negara, tapi nyaris di sekujur planet bumi. Krisis tersebut juga tidak hanya menghinggapi satu atau dua bidang kehidupan, melainkan hampir keseluruhan. Namun kita semua tahu, krisis ini, pertama dan terutama, menggoyangkan sendi kesehatan. Ini adalah masa di mana kematian terasa begitu dekat dengan kita, jauh lebih dekat ketimbang masa-masa sebelumnya. Dari balik jendela rumah, kita menatap keluar dan menebak-nebak, jangan-jangan virus yang tak kasatmata itu menempel di permukaan lantai atau sandal, bersiap menancapkan kuku-kukunya ke dalam diri kita. Ketika kita bertemu orang lain, kita waspada jangan-jangan virus tengah menumpang di telapak tangannya, mencari kesempatan yang tepat untuk berpindah ke telapak tangan kita. Di ruang-ruang publik, kita khawatir menyaksikan meja atau kursi atau bahkan tiang listrik, mengira virus bersemayam di sana dan sedang menunggu kapan kita lengah. Dan kecemasan itu kian bertambah lantaran dunia kesehatan kita, beserta para ahli di dalamnya, belum kunjung menemukan obat yang ampuh untuk menangani virus yang memiliki nama sebegitu indah ini, Corona atau Covid-19.

Lantas kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ketika kasus Covid-19 ini mulai menyebar, rumah sakit, alat pelindung diri, obat-obatan, ventilator hingga ketersediaan tenaga kesehatan tidak mampu melayani seluruh pasien. Apakah ini berarti ada yang salah dengan sistem kesehatan kita? Ataukah memang sistem kesehatan kita sudah rapuh semenjak mula? Apa pun itu, rasanya pandemi Covid-19 yang belum kita ketahui kapan berakhirnya ini akan menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali makna “sehat” di era kenormalan baru. Kita perlu mempertanyakan kembali konsep sehat yang selama ini kita pahami, bahwa sehat hanya dimaknai dalam pengertian fisik, sehingga mereduksi pentingnya kesehatan pikiran dan jiwa. Padahal, olah gerak fisik yang berpadu dengan olah pikiran akan bermuara pada keselarasan serta pencapaian spirit yang luhur. Dengan melatih badan (body), kita akan mengenal struktur dan cara kerja organ-organ tubuh. Sementara dengan melatih pikiran (mind), manusia disadarkan tentang bagaimana otak mengoordinasikan gerak tubuh. Melatih ketiganya akan menciptakan keseimbangan antara diri dengan alam tempat kita hidup. Sehingga kita terdorong untuk hidup harmonis dengan keluarga, saudara, dan masyarakat.

Berdasarkan pemikiran semacam itulah, maka webinar seri 4 Kongres Kebudayaan Desa 2020 mengangkat tema krusial Kesehatan Semesta: Menghadirkan Kembali Kesehatan yang Setara untuk Semua dari Desa. Webinar itu diselenggarakan melalui aplikasi Zoom pada tanggal 2 Juli 2020 dengan total users mencapai 1.696. Webinar ini juga disiarkan secara langsung melalui Youtube dan sampai tulisan ini dibuat tanggal 24 Juli 2020 telah ditonton sebanyak 469 kali. Webinar ini menghadirkan lima narasumber, antara lain Dumilah Ayuningtyas (FKM UI), IB Yoga Atmaja (PGB Bangau Putih Cabang Yogyakarta), DR. dr Budi Laksono, MHSc (Penggagas Jambanisasi), Iskandar Waworuntu (Bumi Langit Permaculture), dan Andy Tagihuma (Antropolog Kaki Abu, Jayapura Papua), serta dimoderatori oleh Dr. Ika Puspitasari (Farmasi UGM).

Kesehatan semesta, tentu saja, merupakan istilah yang mengandung pengertian sedemikian luas. Oleh karena itu, webinar yang hasilnya kemudian dikumpulkan dalam buku ini berusaha untuk tidak hanya mendefinisikan kembali makna sehat, tetapi bagaimana juga kita menata kembali manajemen kesehatan. Termasuk pendataan warga yang valid hingga pemahaman terhadap risiko penyakit dan penanggulangannya. Namun, tentu saja ini bukan hanya tentang data dan teknologi. Kita juga membutuhkan kemauan politik untuk menghargai setiap nyawa warga negara, dan negara tentu berperan besar dalam hal itu.

Dalam pemaparannya di webinar ini, Dumilah Ayuningtyas mengatakan bahwa menjamin penyelenggaraan upaya kesehatan integratif yang meliputi aspek jasad, pikiran, dan jiwa, sekaligus menyeluruh mulai dari promotif-preventif hingga kuratif-rehabilitatif merupakan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Seterusnya, upaya kesehatan tersebut seharusnya tidak hanya berfokus pada penyelesaian dampak masalah kesehatan yang sudah terlanjur ada melainkan justru mengawali dengan membangun benteng pertahanan di masyarakat melalui nilai dan paradigma sehat untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan. Di kemudian hari, upaya kesehatan yang lebih terfokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif di rumah sakit, cepat atau lambat harus bergeser menuju upaya kesehatan berbasis komunitas (community based health program) demi terwujudnya ketahanan kesehatan masyarakat yang kokoh dan berkelanjutan. Dan itu semua bisa terwujud dalam upaya pembangunan desa sebagai sebuah bentuk desa siaga, termasuk desa siaga atau tanggap Covid-19 yang diharapkan, pada gilirannya, akan menjelma menjadi desa sehat.

Di masa pandemi Covid-19 ini, untuk bisa mewujudkan desa siaga atau tanggap Covid-19 sebagaimana dimaksudkan oleh Dumilah Ayuningtyas, ada baiknya kita membaca ulang bagaimana Covid-19 masuk ke Indonesia dan bagaimana kita meresponsnya serta apa saja yang terjadi sampai hari ini. Barangkali masih segar di ingatan kita bagaimana di awal-awal pandemi ini, terjadi penyangkalan di mana-mana yang direpresentasikan dengan gurauan-gurauan yang justru keluar dari mulut para pemimpin kita. Hal ini membawa efek domino yang agaknya juga berperan dalam memperparah akibat pandemi ini di Indonesia. Budi Laksono kemudian memaparkan kepada kita, dari sudut pandang seorang dokter yang turun langsung sebagai garda depan penanganan Covid-19, tentang dampak-dampak yang diakibatkan oleh pandemi ini. Sebuah kenyataan pahit yang memang terjadi dan harus kita terima. Namun, bukan berarti tidak ada titik terang dari itu semua. Di akhir paparannya, beliau mengatakan bahwa dari desa, kita bisa menata masa depan bangsa. Dan pandemi Covid-19 ini, sepertinya adalah momentum yang tepat untuk itu.

IBK Yoga Atmaja dan Iskandar Waworuntu menawarkan sesuatu yang segar dalam upaya mewujudkan kesehatan semesta ini. Mereka mengajak kita kembali menengok ke dalam diri. Yoga Atmaja mengatakan bahwa jamune kuwi obah (obatnya adalah bergerak). Ia meyakini bahwa tubuh kita memiliki jamu alami yang untuk membangkitkannya dibutuhkan olah tubuh. Ia sengaja membedakan olahraga dengan olah tubuh, karena menurutnya, olahraga telah mengalami penyempitan makna hingga olahraga yang hari ini kita kenal adalah sport, yakni serangkaian aktivitas fisik atau permainan kompetitif yang terorganisasi untuk bersaing dan dapat meraih prestasi dalam arena kompetisi/kejuaraan. Sementara olah tubuh bisa diartikan sebagai aktivitas jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesatuan sistem organ tubuh tetap berfungsi dengan baik sehingga terbangun vitalitas kesehatan dan kebugaran yang prima. Ia juga menyarankan agar olah tubuh ini kemudian dilembagakan sehingga memudahkan pengorganisasian dan pengoordinasian. Dan desa, menurutnya, dapat menjadi titik tolak yang cukup strategis dalam memulai pembudayaan olah tubuh masyarakat.

Iskandar Waworuntu menyampaikan pemikirannya yang sedemikian jernih tentang kesehatan. Ia mencoba menghubungkan apa yang kita makan, keseimbangan dengan alam, dan religiositas. Ia menyatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan sisa di muka bumi. Maka, bila ada sampah atau residu yang tercipta, maka itu mengindikasikan adanya kegagalan suatu sistem yang dipakai. Jika ada keseimbangan yang rusak, maka bencana akan terjadi.

Hari ini, kita tengah menghadapi bencana itu dalam bentuk pandemi Covid-19, maka tak berlebihan rasanya bila kita juga mencoba menelusuri keseimbangan semacam apakah yang telah kita rusak tersebut. Keseimbangan antara alam dan manusia kemudian ditunjukkan oleh Andy Tagihuma dengan menghadirkan beraneka macam tanaman obat dari Papua. Adalah sebuah keniscayaan bila alam juga menyediakan berbagai tanaman obat yang bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Namun, seperti yang disinggung Andy Tagihuma di akhir tulisannya, ulah manusia pulalah, antara lain dengan merusak hutan, yang menyebabkan keseimbangan itu menjadi kacau. Sebagai contoh, kerusakan hutan di Arso, Papua akibat industri sawit menyebabkan hilangnya lebih dari 40 tanaman obat. Dan dengan hilangnya tanaman obat itu, pengetahuan tentang tanaman obat itu juga otomatis ikut menghilang.

Ryan Sugiharto, dalam tulisan yang merupakan hasil dari call for paper untuk tema Kesehatan Semesta, menyampaikan gagasan yang menarik dari perspektif kearifan masyarakat Jawa. Dengan mendedah ajaran Ki Ageng Suryomentaram tentang kawruh jiwa, ia mencoba menghadirkan kesehatan yang holistis, termasuk di dalamnya kesehatan mental yang kian terasa kontekstual di tengah pandemi Covid-19. Di akhir tulisannya, ia menyatakan bahwa kapasitas desa untuk membangun sistem kesehatan semesta tampaknya lebih siap bila dibandingkan wilayah perkotaan. Ketersediaan air bersih, udara bersih, dan pangan yang sehat memungkinkan untuk terwujudnya sistem kesehatan untuk semua.

Dengan mempertimbangkan itu semua, seraya memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 ini, semoga kesehatan berbasis komunitas bisa tercipta yang pada akhirnya, dengan sistem penyangga yang kuat seperti disebutkan di atas, kesehatan semesta juga bisa terwujud. Semoga.[]

Kongres Kebudayaan Desa - Kesehatan Semesta 2.23 MB
Buku Putih - Kongres Kebudayaan Desa 5.15 MB