Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020 - Pemuda

Kongres Kebudayaan Desa - Pemuda
Illustration - ciptaDesa.com

Salah satu pernyataan tokoh nasional perihal pemuda yang paling sering dikutip di banyak tempat adalah pernyataan Bung Karno dalam salah satu pidatonya: beri aku sepuluh orang pemuda, akan kuguncang dunia!

Tidak berselang terlalu lama dari pernyataan Bung Karno itu, terutama ketika sistem ekonomi kapitalis masuk dan diterapkan di negeri ini usai kejatuhan Bung Karno, para pemuda di negeri ini yang jumlahnya berkali-kali lipat dari 10 orang, berbondong- bondong meninggalkan desa menuju kota dalam gelombang yang panjang hingga hari ini. Mereka meninggalkan desa bukan hendak mengguncang dunia. Mereka datang ke kota untuk menjajal peruntungan, mencari pekerjaan di kota demi mendapat penghasilan yang lebih jelas.

Para pemuda itu tergiur dengan iming-iming mudahnya mencari pekerjaan dan mendapat penghasilan di kota dibanding jika mereka menetap di desa dengan pekerjaan yang tersedia sangat terbatas dan penghasilan yang dianggap pas-pasan. Petani lagi petani lagi, nelayan lagi nelayan lagi, itu-itu saja pilihan yang tersedia di desa. Begitu anggapan yang muncul karena tersentralisasinya pembangunan selama ini.

Gelombang besar dan panjang dari arus urbanisasi ini meninggalkan kesunyian di desa, hingga pada beberapa kasus membikin desa menjadi tidak berdaya karena tersisa anak-anak dan orang tua yang berdiam diri di sana. Pemuda Indonesia, yang menurut Bung Karno sepuluh orang saja sudah cukup untuk mengguncang dunia, nyatanya jutaan orang dari mereka tanpa disadari mengambil peran besar dalam melemahkan kekuatan desa.

Sekira lima tahun lalu, saya pernah berkunjung ke sebuah desa yang letaknya di kaki sebuah gunung. Desa itu betul-betul sunyi. Hanya sedikit orang tua dan anak-anak yang menetap di desa itu. Sisanya, hampir seluruh pemuda di desa itu, pergi meninggalkan desa untuk bekerja. Ada yang bekerja di kota-kota besar di negeri ini, lebih banyak lagi yang bekerja sebagai buruh migran di Malaysia, Brunei, Arab Saudi, dan Hongkong.

Karena terletak di kaki gunung, desa tersebut sesungguhnya subur. Padi, jagung, tembakau, kopi, dan beberapa jenis pohon buah-buahan tumbuh subur di sana. Sayangnya stigma yang dimunculkan terhadap profesi petani di negeri ini serta rendahnya harga-harga komoditas hasil pertanian membikin para pemuda enggan memilih petani sebagai profesi mereka. Berkah tanah subur yang mereka dapat pada akhirnya sekadar disewakan untuk ditanami ribuan batang pohon sengon karena para pemudanya lebih memilih bekerja di luar desa.

Bukan satu dua desa di negeri ini yang berada pada kondisi semacam itu. Ia ditinggalkan para pemudanya bukan karena keterbatasan sumber daya alam di desa, tetapi ada peran tatanan ekonomi global yang membikin mereka para pemuda pada akhirnya lebih memilih meninggalkan desa beserta potensi besar yang ada di sana.

Di lain pihak, ketika krisis ekonomi terjadi di negeri ini, desa- desa itulah yang pada akhirnya kembali menyubsidi para pemuda di kota yang memilih meninggalkan desa. Orang tua mengirim beras dan sumber pangan lainnya ke kota untuk para pemuda yang kehilangan pekerjaan di kota. Tak cukup sampai di situ, orang tua dipaksa menjual aset tanah mereka di desa juga untuk membantu perekonomian mereka yang berbondong-bondong meninggalkan desa. Hingga pada akhirnya, ketika semua itu belum juga berhasil membantu mereka mengatasi krisis ekonomi yang mereka alami, mereka yang sebelumnya berbondong-bondong meninggalkan desa kembali ke desa agar bisa tetap bertahan hidup, sementara aset-aset berharga mereka sudah berubah status kepemilikannya.

Wabah Corona yang melanda bumi ini sepanjang tahun 2020 kembali membuktikan itu. Kota terpukul karena wabah juga memberi dampak buruk bagi perekonomian di sana. Desa-desa pada akhirnya kembali menyubsidi kota, dan arus balik pemuda dari kota ke desa- desa terjadi akibat kehilangan pekerjaan di kota dan daya bertahan hidup di kota sudah kian menurun. Desa kembali diandalkan.

Kongres Kebudayaan Desa, yang salah satunya memilih tema bahasan perihal pemuda, saya kira menjadi momen yang tepat untuk kembali membicarakan peran pemuda terhadap pemberdayaan di desa. Lebih lagi krisis ekonomi mengintai di depan mata. Arus balik para pemuda ke desa tak bisa dihindari lagi karena perekonomian di kota yang sebelumnya mereka andalkan kini dalam kondisi limbung.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari lima pembicara di Kongres Kebudayaan Desa, Webinar Seri 8 dengan tema PEMUDA: Merekonstruksi Ulang Formasi Strategis Pemuda Desa, ditambah satu tulisan hasil seleksi call for papers. Enam tulisan dalam buku ini yang seluruhnya bernada mirip, suara-suara perihal berdayanya desa dengan pemuda sebagai ujung tombak pemberdayaan itu. Ada aura optimisme yang terpancar dari tulisan-tulisan dalam buku ini. Optimis akan masa depan desa di tangan pemuda dengan syarat para pemuda desa mau berdiam di desa dan ambil peran aktif dalam kerja-kerja kolektif di desa.

Dengan membaca enam tulisan dalam buku ini, Anda akan diajak bernostalgia, berefleksi, serta turut optimis memandang masa depan desa bersama pemuda-pemuda yang kembali ke desa dan ambil bagian dalam kerja-kerja bersama. Selamat membaca.

Kongres Kebudayaan Desa - Pemuda 1.03 MB
Buku Putih - Kongres Kebudayaan Desa 5.15 MB