Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020 - Perempuan & Anak

Kongres Kebudayaan Desa - Perempuan & Anak
Illustration - ciptaDesa.com

Keterlibatan dan peran perempuan di masyarakat bukan jalan yang mulus dan mudah. Hal tersebut, terutama dilatarbelakangi oleh kultur patriarki yang telah menjadi ideologi dalam kehidupan sosial dan budaya. Ideologi kultur patriarki tersebut mengelompokkan peran dan arena antara perempuan dan laki-laki, yang pada akhirnya memunculkan ketidakadilan dalam banyak aspek. Kesenjangan yang diterima perempuan melahirkan sebuah standpoint, yang memosisikan perempuan lebih rendah dan terpinggirkan dari kelompok dominan, yaitu kaum patriarki yang berorientasi kepentingan. Perbedaan kelas sosial antara perempuan dan laki-laki ini kemudian melahirkan segala bentuk kecenderungan diskriminasi yang diterima oleh perempuan.

Di Indonesia, ideologi patriarki yang mengakar kuat hanya menyisakan sedikit ruang bagi perempuan dalam arena produksi, hingga publik. Perempuan menjadi termarginalkan dan perannya kemudian hanya melingkupi persoalan domestik. Sektor domestik dinilai sebagai sektor yang statis dan konsumtif, sementara sektor publik bersifat dinamis dan memiliki sumber kekuasaan di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan, yang pada akhirnya mampu menghasilkan dan mengendalikan perubahan sosial. Laki- laki kemudian memiliki kewenangan tidak hanya untuk nafkah, melainkan juga kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga.

Hal tersebut dinilai sangat perlu didekonstruksi, terutama ketika dihadapkan pada realitas di masa pandemi yang telah mengubah tatanan kehidupan seluruh dunia: aspek sosial, ekonomi, politik hingga unit terkecil di dalam keluarga. Setiap orang mengalami kegagapan menghadapi pandemi. Di tengah kondisi demikian, persoalan terkait perempuan dan anak juga mengalami tantangan serupa.

Selain guncangan ekonomi bagi perempuan yang bergerak di bidang domestik, beban ganda juga turut dirasakan oleh perempuan yang bekerja, yang mampu memicu tekanan psikologi. Hal tersebut semakin diperburuk oleh sikap pasangan yang tidak kooperatif dalam pembagian peran di keluarga dikarenakan kultur patriarki tersebut. Untuk itu, kita perlu menata ulang dasar pemahaman aktivitas basis gender. Tidak hanya melihat laki-laki, tetapi juga perempuan sebagai agen perubahan, turut merefleksikan kembali peran perempuan, apa yang dikerjakan perempuan, sekaligus daya yang dimiliki perempuan, terutama dalam menghadapi Covid-19.

Seri 6 webinar dalam rangkaian acara Kongres Kebudayaan Desa 2020 terselenggara pada hari Jumat, 3 Juli 2020, khusus membahas tentang Perempuan & Perlindungan Anak: Perempuan untuk Masa Depan Desa & Arah Tatanan Indonesia Baru yang Inklusif. Dalam seri ini hadir lima pembicara yang memaparkan gagasannya terkait Perempuan dan Perlindungan Anak, yaitu (1) Dr. Risa Permanadeli dari Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia, (2) Ema Husein dari SPAK Sulawesi Selatan, (3) Hasan Aoni dari Omah Dongeng Marwah Kudus, (4) Myra Diarsi dari Lembaga Gerak Pemberdayaan Jawa Tengah, dan (5) Wakhit Hasyim dari Yayasan Wangsakerta Cirebon, dengan moderator Tata Gandi, yang sehari-hari berkarya di Rekso Dyah Utami UGM sebagai Koordinator Bidang Reintegrasi Sosial dan Pemulangan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak.

Webinar seri 6 ini juga mencoba menemukan alternatif jawaban mengenai:

  1. rumusan menjadi perempuan yang mampu menguatkan tatanan Indonesia Baru dari desa;
  2. strategi yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di tengah pandemi Covid-19;
  3. bentuk dan mekanisme pengurangan risiko kekerasan terhadap perempuan pada masa new normal;
  4. sistem yang bisa dibangun untuk memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif bagi perempuan di tengah pandemi Covid-19 dan pada masa new normal;
  5. mekanisme kebijakan penanganan kesehatan mental bagi perempuan dan anak di tengah masa pandemi Covid-19;
  6. pemodelan alternatif untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan mental dalam masa new normal bagi perempuan dan anak;
  7. strategi dan mekanisme pertahanan keluarga yang bisa dilakukan perempuan dalam rangka penanganan krisis finansial dalam keluarga akibat Covid-19.

Seri webinar kali ini berupaya mendorong narasumber untuk sumbang gagasan dan pengalaman, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Akan tetapi dikarenakan berbagai hambatan, sebagian dari narasumber hanya bisa memaparkan ide dan pengalaman mereka dalam bentuk lisan, yang kemudian dijalin menjadi sebuah kesatuan tulisan yang utuh oleh tim Kongres Kebudayaan Desa 2020.

Buku ini merupakan keluaran dari kegiatan webinar seri ke-6 Kongres Kebudayaan Desa 2020, baik yang ditulis langsung oleh narasumber, tulisan yang merupakan catatan dari tim kongres, maupun beberapa tulisan yang lolos kurasi Call for Paper. Semoga tulisan dari webinar seri 6 yang telah berbentuk buku dan berada di tangan pembaca ini mampu menyumbang ide, gagasan, untuk arah Indonesia baru selama dan setelah berakhir Covid-19, yang berpijak dari nilai luhur masyarakat desa. Akhir kata, selamat membaca![]

Kongres Kebudayaan Desa - Perempuan & Anak 2.43 MB
Buku Putih - Kongres Kebudayaan Desa 5.15 MB